Jakarta--Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan mendukung sikap pemerintah yang terus memerangi aksi terorisme dan kekerasan. 

Hal ini disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj saat bertemu Wakil Presiden (Wapres) Boediono di Jakarta kemarin. Menurut Said, PBNU akan terus mendukung seluruh program pemerintah.Meski demikian, NU juga tetap akan memberikan kritik kepada pemerintah bila program tersebut dianggap kurang tepat. “Ketika pemerintah ada hal-hal yang kita anggap kurang prorakyat, kita akan beri masukan, kritikan, atau rekomendasi dengan bahasa NU yang santun, yang cool, tidak menggunakan bahasa-bahasa yang hot,”ungkap Said.

Secara konkret, ujarnya, NU akan melakukan pendekatan ke berbagai daerah yang terindikasi memiliki kelompok radikal. Dengan pembangunan ekonomi dan kegiatan sosial yang dilakukan NU,Said meyakini, radikalisme akan terkikis.Beberapa daerah yang menjadi target sosialisasi NU antara lain Garut, Solo,Ngawi, dan Cirebon.“Kalau hanya lewat pengajian dan ceramah, mereka sudah bosan karena mereka merasa punya surga. Kita perkuat mereka dengan sembako atau pengobatan gratis,” kata kiai asal Cirebon ini. Wapres Boediono mengatakan, insiden bom seperti di GBIS Kepunton Solo bisa dicegah jika pemerintah dan ormas Islam saling bekerja sama.

“Saya kira, Nahdlatul Ulama bersama pemerintah tentu akan bersamasama mencari upaya yang lebih baik lagi dan mengurangi risikorisiko (aksi teroris) semacam ini,”kata Boediono. Menurut dia, berbagai program sosial yang menyangkut kesejahteraan rakyat juga akan dilakukan oleh pemerintah dan NU.Program tersebut antara lain untuk memecahkan kemiskinan, kekurangan gizi, dan pendidikan yang belum merata.“Program ini tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Kita harus merangkul, harus bekerja sama dengan ormas-ormas yang memiliki jaringan luas. Ini kaitannya untuk mengurangi risiko-risiko radikalisme tadi,”tandasnya.

Sementara itu,Ketua Umum DKN Garda Bangsa Hanif Dhakiri menilai,aksi bom bunuh diri di Solo telah menodai toleransi umat beragama di Indonesia. Menurut dia, aksi bom di GBIS Kepunton Solo menunjukkan bahwa jaringan terorisme di Indonesia belum sepenuhnya mati. “Mereka masih terus bergerak, mengorganisir diri,melakukan pengaderan,danterusmengintai untuk mencari waktu yang tepat melakukan serangan-serangan mematikan,”paparnya. rarasati syarief/ muhammad sahlan/Sindo