Harlah NU Ke-85

Jakarta-Hubungan NU  dengan negara ibarat pinang dibelah dua, sakitnya negara berarti sakitnya NU. Begitu pula derita NU berarti pula derita Negara. Meskipun demikian, sayang sekali, cukup banyak warga NU yang masih tergolong miskin, mereka umumnya petani, nelayan dan buruh tani di pedesaan.

Demikian disampaikan Ketua Panitia peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-85 Nahdlatul Ulama H As’ad Said Ali di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, Ahad (17/7), saat memberikan sambutan di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ratusan ribu warga Nahdliyin yang hadir. “Saya yakin pemerintah selalu memberikan perhatiannya terhadap warga NU,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu As’ad menyampaikan, panitia Harlah NU mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanan Harlah ini. Menurutnya, pihaknya telah bekerja selama sekitar tiga bulan, untuk mempersiapkan acara Harlah yang berlangsung satu Bulan penuh.

Rangkaian peringatan harlah ke-85 NU dimulai Launching 18 Juni yang lalu, yang dilanjutkan dengan pelaksanaan seminar di berbagai kota besar di Jawa, Semarang, Bandung Surabaya dan Jakarta, tentang berbagai persoalan yang dihadapi umat. 

Peringatan Harlah kemudian dilanjutkan dengan al-Multaqa as-Shufi Al-Alamy(Pertemuan Shufi sedunia), kemarin tanggal 16 Juli. Pada saat bersamaan diselenggarakan Pameran ekonomi Kreatif warga Nahdliyin dan pagelaran seni religi dan budaya Nusantara. Rangkaian kegiatan terakhir akan diselenggarakan Silaturrahmi Ulama Afghanistan dengan ulama Indonesia dalam rangka merajut perdamaian di negara Islam tersebut yang akan berlangsung 18-19 Juli mendatang.

“Langkah ini merupakan upaya memberi makna kehadiran NU, bukan hanya untuk warga NU, tetapi juga untuk bangsa, bahkan untuk bangsa-bangsa di dunia ini. Misi ini diemban sebagai konsekuensi NU yang menggunakan simbol jagat yang berarti memiliki komitmen kesejagatan,” katanya.

Ditambahkan, Rapat Akbar yang kita laksanakan pada Siang ini merupakan Puncak dari Peringatan Harlah ke-85 NU, yang dihadiri lebih dari 120.000 warga NU yang terdiri dari kontingen Cabang dan Wilayah NU, para ulama dan warga pesantren, Muslimat, Fatayat IPNU-IPPNU, PMII, serta tak ketinggalan para personel Banser dan pendekar Pagar Nusa.

“Hadir juga perkumpulan majelis Taklim, para pimpinan tarekat baik dalam maupun luar negeri, yang kehadirannya kita harapkan dapat menyejukkan suasana di dalam negeri dan mendorong makin terjalinnya perdamaian dunia,” tambahnya.NU Online