Jakarta – Tidak semua kiai di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta yang hadir dalam Silaturrahim Kyai dan Pengasuh Pondok Pesantren, ikut ‘pulang’ ke PPP. Sebagian kiai lainnya yang jumlahnya tak kalah banyak, justru merasa dipermainkan oleh pengurus PPP.

Salah seorang diantaranya adalah KH Tadzkir yang hadir dalam Majelis Silaturahim Kiai dan Pengasuh Pondok Pesantren seluruh Indonesia (MSKP3I) di Brebes, Jawa Tengah. Namun fakta di lapangan yang ditemui pengurus pondok pesantrean Al-Ikhsan, Semarang, itu sungguh di luar dugaan.


“Undangan yang saya terima dan juga teman-teman kiai lain itu undangan dari Majelis Silaturahim Kiai dan Pengasuh Pondok Pesantren seluruh Indonesia (MSKP3I). Kami kecewa ternyata banyak bendera PPP dan kami dimintai dukungan PPP. Malah ada kiai yang menyatakan siap memenangkan PPP,” keluh KH Tadzkir, dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (13/2/2011).


Tadzkir mengaku bukan hanya dirinya yang merasakan kekecewaan dan merasa dipermainkan karena acara silahturahmi dipolitisasi oleh PPP. Perlu diketahui bahwa para kiai yang hadir berasal dari latar belakang politik yang berbeda-beda dan bahkan ada yang tidak berafiliasi pada partai politik tertentu.


“Karena kiai yang diundang kan latar belakang politiknya berbeda-beda, ada yang latar belakangnya PKB seperti saya, ada yang Golkar dan ada yang PKNU. Kok tiba-tiba diklaim menjadi milik PPP? Kan mengecewakan, jadi kami merasa dibohongi. Kiai kok buat mainan,” kecamnya.


Akibat acara yang dipolitisasi, menurut Tadzkir, ada banyak kiai yang memilih meninggalkan acara jauh lebih awal dari jadwal seharusnya. Dia juga menyesalkan kejadian yang menurutnya justru malah memperburuk citra PPP secara umum dan Suryadharma Ali selaku Ketua Umum PPP pada khususnya.


“Saya rasa masyarakat kiai menjadi tidak simpatik dan ini menjadikan citra PPP kian buruk,” tegasnya.   Dia juga menyesalkan panitia acara silaturrahi yang tidak terbuka sejak awal. Silaturrahi bagi kalangan kyai dan pesantren merupakan tradisi yang sangat penting dan bila kemudian dipolitisasi serta diklaim menjadi acara untuk kepentingan politik partai tertentu, maka patut disesalkan. 


“Kami juga kaget ternyata acara tersebut juga diberitakan di berbagai media massa oleh salah seorang  pengurus PPP sebagai kegiatan konsolidasi kyai-kyai yang akan bergabung ke PPP,” ujar Tadzkir.   Bertiga bersama KH Ali Munabah (ponpes Annur, Candirejo, Semarang) dan KH Slamet Ghufron (ponpes Al Gufron, Kecandran, Salatiga) memang tidak segera beranjak meninggalkan acara dengan alasan ingin menjaga suasana kondusif. Namun bila kemudian disebut ikut bergabung ke PPP, mereka dengan tegas membantahnya.   “Kami mohon lain waktu para politisi menggunakan praktik politik yang santun, terbuka, beretika dan tidak membohongi serta menjebak para kyai dan kalangan pesantren untuk tujuan politiknya,” ujar KH Ali Munabah.   Sebelumnya dalam forum silaturahim yang dihadiri seribuan orang kiai ini diklaim PPP sebagai bentuk kembalinya dukungan kiai se Jateng-DIY ke PPP. Sebanyak 23 kiai juga menyatakan dukungan dalam surat pernyataan mereka untuk memenangkan PPP dalam pemilu 2014. (van/lhdetiknews.com)